March21st, 2019 - Sebagai penyair diraja terakhir karya karya Muda Omar Ali Saifuddien tidak terlepas daripada menonjolkan citra sastera Brunei atau Borneo melalui pemikiran dan gambaran budaya dan latar karyanya Syair Perlembagaan berlatar belakangkan budaya dan pemikiran disekitar proses memateri perlembagaan Negara Brunei
Ahmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari 1958 di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, Yosi Herfanda adalah seorang sastrawan Indonesia yang telah memberikan kontribusi yang berharga dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karyanya mencerminkan eksplorasi yang mendalam terhadap narasi dan identitas budaya mengawali perjalanan kreatifnya dengan menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan sentuhan personal yang kuat, memperhatikan detail-detail kecil yang memberikan kehidupan pada narasi yang Ahmadun Yosi Herfanda ditandai oleh eksplorasi narasi yang mendalam. Ia mampu menghadirkan dunia cerita yang beragam, dari cerita sejarah hingga realitas sosial. Dalam proses menulisnya, ia sering memadukan unsur-unsur fiksi dan nonfiksi, menciptakan lapisan-lapisan naratif yang kompleks dan mendalam. Narasi yang dihasilkan oleh Ahmadun Yosi Herfanda memperlihatkan kepekaan terhadap detail, konflik, dan karakter yang satu tema yang sering dieksplorasi oleh Ahmadun Yosi Herfanda adalah identitas budaya Indonesia. Karya-karyanya memperlihatkan kepedulian terhadap keberagaman budaya Indonesia, dengan menggambarkan kehidupan dan pengalaman masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kekayaan budaya dan pentingnya menjaga dan menghargai identitas budaya di tengah tantangan zaman Yosi Herfanda memiliki gaya penulisan yang unik, dengan bahasa yang lugas dan memikat. Ia menggunakan bahasa yang sederhana namun sarat dengan makna, sehingga karya-karyanya mudah diakses oleh berbagai kalangan pembaca. Pengaruh sastra klasik Indonesia dan internasional juga terlihat dalam karya-karyanya, menciptakan perpaduan yang menarik antara tradisi dan pernah dimuat di berbagai media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur' kumpulan puisi, 1980;Ladang Hijau kumpulan puisi, 1980;Penyair Yogya Tiga Generasi antologi puisi, 1981;Sang Matahari antologi puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, 1984;Prasasti antologi puisi, 1984;Meniti Jejak Matahari antologi puisi, 1984;Tanah Persinggahan antologi puisi, 1985;Syair Istirah antologi puisi, bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, 1986;Tugu Antologi Puisi 32 Penyair Yogya antologi puisi, 1986;Tonggak 4 Antologi Puisi Indonesia Modern antologi puisi, 1987;Paradoks Kilas Balik antologi cerpen, 1989;Sajak Penari kumpulan puisi, 1990;Pustaka Hidayah kumpulan artikel, 1992;Pergelaran antologi cerpen, 1993;Dari Negeri Poci 2 antologi puisi, 1994;Teror Subuh di Kanigoro sejarah, 1995;Sembahyang Rumputan kumpulan puisi, 1996;Trotoar antologi puisi, 1996;Sebelum Tertawa Dilarang kumpulan cerpen, 1997;Fragmen-Fragmen Kekalahan 20 puisi pilihan kumpulan sajak, 1997;Kolusi kumpulan cerpen, 2002;Leksikon Sastra Jakarta Sastrawan Jakarta dan Sekitarnya 2003;Sastra Kota Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003;Kota yang Bernama dan Tak Ternama Antologi Cerpen Temu Sastra Jakarta 2003;Bisikan Kata, Teriakan Kota Antologi Puisi Temu Sastra Jakarta 2003;Demokrasi Madinah Model Demokrasi Cara Rasulullah 2003;Ciuman Pertama untuk Tuhan kumpulan puisi, 2004;Sebutir Kepala dan Seekor Kucing kumpulan cerpen, 2004;Badai Laut Biru kumpulan cerpen, 2004;The Worshipping Grass kumpulan puisi dwi bahasa, 2005;Dokumen Jibril Kumpulan Cerpen Republika 2005;Resonansi Indonesia antologi puisi sosial, 2006;Koridor yang Terbelah kumpulan esai sastra, 2006;Jogja Lima Koma Sembilan Skala Richter antologi puisi, 2006;Anthology Empati Yogya Sebuah Kumpulan Puisi 2006;Nyanyian Cinta Antologi Cerpen Santri Pilihan 2006;Tarian dari Langit antologi cerpen, 2007;Inspiring Stories 30 Kisah Para Tokoh Beken yang Menggugah 2008;Yang Muda yang Membaca esai panjang, 2009;Sajadah Kata kumpulan puisi, 2013;99 Cara Mudah Menjadi Penulis Kreatif 2016;Matahari Cinta Samudera Kata antologi puisi, 2016;Bunga Rampai PMK Bergerak dengan Nurani antologi puisi menolak korupsi, 2017;Demokrasi di Era Digital 2021;Ahmadun Yosi Herfanda merupakan sastrawan yang menggambarkan eksplorasi narasi dan identitas budaya Indonesia melalui karya-karyanya yang kaya dan bermakna. Ia memperlihatkan kepekaan terhadap kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai budaya, serta mampu menghadirkan narasi yang mendalam dan Ahmadun Yosi Herfanda memberikan kontribusi yang berharga bagi perkembangan sastra Indonesia, mengajak pembaca untuk merenungkan dan menghargai keberagaman budaya serta memperkuat kesadaran akan identitas budaya bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa. Kumpulan Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda
Puisi Sungai Iman Karya: Ahmadun Yosi Herfanda. Sungai Iman Sungai itu panjang sekali mengalir ke dalam tubuhmu dengan penuh cinta aku pun berlayar
PERJUMPAAN RINDU Tiap berlayar selalu kuingat saat berlabuh Sebab Cintaku padamu tak pernah angkat sauh Dengan layar perahu kurentang Rindu Namun angin membawaku semakin jauh Walau gemuruh ombak mengaduh Minta dermaga kembali mendekapmu Adakah ombak yang tak rindu pantai Adakah pantai yang tak rindu ombak Adakah dermaga yang tak rindu perahu Adakah perahu yang tak rindu dermaga Ombak telah membuktikan kesetiaan pada pantai Padanya ia selalu melabuhkan kecupan Tiap detik tak lepas dari kasih sayangnya Setiap berlayar selalu kucatat Waktu kembali berlabuh padamu Tunggulah. Rinduku takkan lupa Hangat pelukanmu Tanjungpasir, 2021 DOA UNTUK NEGERIKU Seperti harapan yang engkau tabur Aku pun menebar rasa bersaudara Jika hari kembali terjaga dalam gairah kerja Aku selalu berdoa, untukmu, negeriku Untuk keselamatanmu, untuk kejayaanmu Walau corona masih menghantuimu Dan wabah gelombang ketiga menakutimu Aku ingin engkau tetap tegar dalam langkahmu Kutebarkan kata-kata bijak Mengusap wajah-wajah para pekerja Menepis covid, berlindung selembar harapana Mereka menumpang gerbong-gerbong kereta Dan bus-bus antarkota. Mereka dari desa ke kota Lalu lenyap di balik gedung-gedung berkaca Di tanganmu yang perkasa, mereka Menganyam cita-cita, sehasta demi sehasta Juga untukmu, tanah airku Kini doaku mengental, menjadi sajak Yang dengan senyumnya mengucapkan Selamat malam, selamat menuai mimpi Lalu dengan sayap makna menari-nari di udara Menciumi tiap pipi yang merona oleh sapaannya Esok hari dengan seribu sayap bidadari Sajak itu akan membawa sekuntum bunga Bagi tiap warga negara. Berharap tiap kelopaknya Mekar jadi tawa dalam rasa bersaudara. Jakarta, 2021 SORE DI PANTAI Masih kutemukan sosok itu bermain di pantai Hari itu, Sabtu sore, empat puluh tahun lalu Tubuhku yang dekil, dengan kolor merah tua Mengejarmu melintas pasir yang menyimpan luka Seperti tak ada yang berubah. Ombak masih setia Mengusap bibirmu yang basah, dan para nelayan Dengan perahu-perahu kecil, menganyam masa depan Bersama angin dan rinai hujan. Sesekali kakap Dan cakalang, kadang kue atau tengiri, Berserah diri pada jala dan kail nelayan Di barat kulihat kaki langit yang redup Oleh tumpukan awan, dan di timur kegelapan Mulai menelan sisa-sisa air hujan Pada saat seperti itu, dulu pun aku mulai berkemas Meninggalkan pasir dan ombak, meninggalkan Segala kenangan, tanpa bidikan kamera Hanya sebingkai senyuman bintang Membawaku kembali ke kampung halaman Dalam rasa asam-manis buah mempelam! Kaliwungu, 2020 SUARA TANGIS ITU Kudengar lagi suara tangis itu Tangis anak-anak yang kehilangan ibu Pelarian dari negeri yang dihujani peluru Tapi ini di teluk Jakarta Bukan di Selat Malaka Dan aku sedang mengail ikan Di antara rumpon dan karang Ah, adakah mereka tersesat di sini Dan perahu mereka terbalik Sebelum menyentuh pantai? Tak ada anak-anak di perahu ini Kecuali para pengail yang bersedih hati Mendengar suara tangis itu lagi Mungkin tak jauh dari sini Ada perahu serombongan imigran Yang terombang-ambing tanpa nakoda Dan tak tahu akan berlabuh ke mana Tak ada anak-anak di perahu kami Tapi rintih dan suara tangis mereka Terdengar sampai di sini Jakarta, 2017 SENJA DI ULELE seperti tak tersisa lagi derita itu petaka yang dilukis jari-jari tsunami dan luka yang digoreskan senjata api wajah-wajah kini sumringah lagi melambaikan cinta pada senja jingga langit tersenyum mengecup matahari menyapa tarian burung dan ikan pari akankah kau hadir lagi senja ini kembali menoreh harapan di pasir pantai atau hanya kenangan pahit itu yang terbagi tiga helai rambutmu tersangkut di batu, sesobek kerudung ungu di ujung kakiku, dan jasadmu yang mengapung bersama pecahan dinding perahu seperti tak tersisa lagi petaka itu meski lelehan air mata tentangmu tak terhapus telapak waktu Banda Aceh, Maret 2019 Tentang Penulis AHMADUN YOSI HERFANDA adalah alumnus FPBS Univ. Negeri Yogyakarta UNY – IKIP Yogyakarta. Pernah kuliah di Univ. Paramadina Mulya dan menyelesaikan Magister Komunikasi di Univ. Muhammadiyah Jakarta. Ia lahir di Kaliwungu, 17 Januari 1958. Dikenal sebagai penyair social-religius. Ia adalah salah seorang penggagas dan pencanang forum Pertemuan Penyair Nusantara PPN – forum penyair yang diadakan secara bergilir di Negara-negara Asia Tenggara, dan salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia HPI yang dirayakan secara nasional tiap 26 Maret. Selain puisi, ia juga banyak menulis cerpen dan esei sastra. Sejak 2010, mantan redaktur sastra Harian Republika ini mengajar penulisan kreatif creative writing pada Universitas Multimedia Nusantara UMN Serpong. Ia sering menjadi pembicara dan pembaca puisi dalam berbagai forum sastra nasional dan internasional di dalam dan luar negeri. Ahmadun juga pernah menjadi ketua tetap Jakarta International Literary Festival JILFest, anggota pengarah Pertemuan Penyair Nusantara PPN, anggota dewan penasihat Malay Studies Centre Pattani University Thailand, ketua Lembaga Literasi Indonesia Indonesia Literacy Institute, dan pemimpin redaksi portal sastra Litera . Ia juga pernah menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta DKJ, 2009-2012, ketua Komunitas Sastra Indonesia KSI, 2007-2012, ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia HISKI, 1993-1996, ketua Komunitas Cerpen Indonesia KCI, 2007-2012, dan anggota tim ahli Badan Standarisasi Nasional Pendidikan BSNP Kemendikbud RI bidang Sastra 2014-2015. Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Sang Matahari Nusa Indah, Ende Flores, 1980, Sajak Penari kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1991, Sembahyang Rumputan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1996, Fragmen-fragmen Kekalahan Penerbit Angkasa, Bandung, 1996, Ciuman Pertama untuk Tuhan puisi dwi-bahasa, Logung Pustaka, 2004 - meraih Penghargaan Sastra Pusat Bahasa, 2008, Dari Negeri Daun Gugur Pustaka Littera, 2015, dan Ketika Rumputan Bertemu Tuhan Pustaka Littera, 2016 – terpilih sebagai buku unggulan 5 besar dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016. Sedangkan buku kumpulan cerpennya yang telah terbit, antara lain Sebelum Tertawa Dilarang Balai Pustaka, Jakarta, 1997, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing Bening Publishing, 2004, dan Badai Laut Biru Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004.***
Puisi- Sembahyang Rumputan merupakan sajak yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda. Ahmadun lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 17 Januari 1958 silam. Celia Siura Bercerita 100 - Bahaya Microplastik bagi Manusia. Ia dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan tanah air yang banyak menulis sajak-sajak sosial-religius.
Anak-Anak Indonesia Kehilangan ladang di kampung mereka Anak-anak Indonesia merangkak di lorong-lorong gelap kota Berjejal mereka di gerbong-gerbong Kereta api senja Terimpit dalam gubuk-gubuk tanpa jendela Anak-anak Indonesia akan digiring kemanakah mereka Bagai berjuta bebek mereka bersuara menyanyi lagu tanpa syair dan nada Sebelum matahari terbit, anak-anak Indonesia berderet di tepi jalan raya menggapai-gapaikan tangan mereka ke gedung- gedung berkaca yang selalu tertutup pintu-pintunya. Dari pagi hingga sore mereka antre lowongan kerja tapi lantas dibuang ke daerah transmigrasi Terusir dari tanah kelahiran demi bendungan dan lapangan golf katanya Anak-anak Indonesia tercecer di pasar-pasar kota, di kaki- kaki hotel dan biro-biro ekspor tenaga kerja Anak-anak Indonesia, akan dibawa kemanakah Ketika bangku-bangku sekolah bukan lagi dewa yang bisa menolong nasib mereka? 1996Analisis PuisiBeberapa hal menarik dalam puisi "Anak-Anak Indonesia" karya Ahmadun Yosi Herfanda adalah sebagai berikutKetidakadilan sosial Puisi ini menggambarkan ketidakadilan sosial yang dialami oleh anak-anak Indonesia. Mereka kehilangan ladang di kampung halaman mereka dan terpaksa merangkak di lorong-lorong gelap kota. Puisi ini menggambarkan perpindahan anak-anak dari lingkungan pedesaan ke perkotaan yang kurang menyenangkan, di mana mereka terperangkap dalam gubuk-gubuk tanpa hidup yang sulit Puisi ini menggambarkan kondisi hidup yang sulit yang dialami oleh anak-anak Indonesia. Mereka mengalami keterbatasan ekonomi dan terpaksa mencari pekerjaan, namun seringkali dibuang atau terusir ke daerah transmigrasi. Mereka tercecer di pasar-pasar kota, kaki-kaki hotel, dan biro-biro ekspor tenaga kerja. Puisi ini mencerminkan tantangan dan penderitaan yang mereka dan pertanyaan tentang masa depan Puisi ini mengekspresikan keputusasaan anak-anak Indonesia dalam mencari pekerjaan dan kesempatan pendidikan. Mereka antre lowongan kerja dari pagi hingga sore, tetapi seringkali terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka. Puisi ini mengajukan pertanyaan retoris tentang arah masa depan mereka, ketika bangku sekolah tidak lagi menjadi harapan yang dapat membantu ini menggambarkan realitas pahit yang dihadapi oleh anak-anak Indonesia dalam konteks sosial dan ekonomi. Penyair mengkritik ketidakadilan dan menggugah kesadaran tentang kondisi yang sulit ini. Puisi ini memberikan suara kepada anak-anak Indonesia yang terpinggirkan dan menjadi pengingat akan perlunya perhatian dan tindakan untuk memperbaiki keadaan Anak-Anak IndonesiaKarya Ahmadun Yosi HerfandaBiodata Ahmadun Yosi HerfandaAhmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an.
Diantarapahit-manisnya isi dunia. Berikan degup jantungmu. Otot-otot dan derap langkahmu. Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu. Atau mendobraknya atas namamu. Terlalu pengap udara yang tak bertiup. Dari rahimmu,kemerdekaan. Jantungku hampir tumpas. Karena racunnya. SembahyangRumputan merupakan kumpulan puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda yang diterbitkan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, pada tahun 1996. Kumpulan puisi ini terdiri atas 68 puisi (ix + 92 halaman). Kumpulan puisi ini pada tahun 2005 diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, dengan judul Sembahyang Rumputan (The Worshipping Grass). BacaJuga: 8 Teks Puisi Bertema Kemerdekaan Sebagai Pembangkit Semangat Nasionalisme, Cocok Untuk Pentas. 1. ANAK-ANAK INDONESIA Oleh: Ahmadun Yosi Herfanda. Kehilangan ladang di kampung mereka Anak-anak Indonesia merangkak Di lorong-lorong gelap kota Menggelepar dalam gubuk-gubuk tanpa jendela Anak-anak Indonesia, akan digiring ke manakah mereka

AhmadunYosi Herfanda dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980 - 1990 an. Karya-karya Ahmadun Yosi Herfanda. a. Puisi. Sang Matahari (puisi, Nusa Indah, Ende, 1984) Pos sebelumnya Gunungbatu - Puisi Karya Wiji Thukul. Pos berikutnya Chairil Anwar (Sastrawan dan Pujangga)

R7Cbx.
  • whl6oltke6.pages.dev/259
  • whl6oltke6.pages.dev/208
  • whl6oltke6.pages.dev/371
  • whl6oltke6.pages.dev/399
  • whl6oltke6.pages.dev/166
  • whl6oltke6.pages.dev/161
  • whl6oltke6.pages.dev/170
  • whl6oltke6.pages.dev/32
  • whl6oltke6.pages.dev/189
  • puisi karya ahmadun yosi herfanda